SESAR SAUSU PERLU ANALISIS
Palu, 07 Juli 2026
Pada Juni lalu, gempa tektonik berkekuatan 6,7 magnitudo mengguncang wilayah Palu dan Sigi, Sulawesi Tengah. Menurut BMKG, gempa ini terjadi pada kedalaman 16 kilometer, dengan pusat guncangan berada di darat, tepatnya di Torue, Parigi Moutong, sekitar 42 kilometer arah tenggara Palu. Disebut sebagai gempa bumi yang dangkal, peristiwa ini dipicu oleh aktivitas Sesar Sausu dengan pola pergerakan turun atau patahan normal — sebuah patahan yang selama ini masih jarang diteliti.
“Guncangan terasa dengan kekuatan yang berbeda-beda di setiap wilayah,” ujar Nelly Florida Riama, Deputi Bidang Geofisika BMKG.
Intensitas guncangan terkuat yang tercatat di Palolo, Sigi, mencapai skala VII MMI, sedangkan di Torue dan Parigi Selatan berkisar VI–VII MMI. Guncangan dengan kekuatan V–VI MMI meluas hingga ke Kota Palu dan Sigi Biromaru, serta terasa lebih ringan (IV–V MMI) di Poso, Donggala, dan Pasangkayu.
Berdasarkan data BNPB per 18 Juni, sebanyak 2.012 keluarga atau 6.458 jiwa terkena dampak, sebagian besar berada di wilayah Sigi. Gempa ini juga menimbulkan korban jiwa sebanyak 3 orang, serta 79 orang lainnya mengalami luka-luka.
Berbeda dengan Sesar Palu-Koro
Selama ini, ancaman gempa di Sulawesi Tengah sering dikaitkan dengan Sesar Palu-Koro — patahan aktif yang memicu bencana dahsyat pada tahun 2018. Namun, gempa kali ini memiliki sumber yang berbeda.
Secara geologi, Sesar Sausu umumnya bergerak secara horizontal, namun dalam kondisi tertentu dapat bergerak secara vertikal turun. Segmen aktifnya terbentang sekitar 31×18 kilometer dan terletak di zona dangkal. Patahan ini juga memiliki hubungan tektonik dengan Sesar Tokoraru, dan keduanya beberapa kali memicu gempa dengan kekuatan 4,2 hingga 6,0 magnitudo dalam sembilan tahun terakhir.
Karena masih minimnya kajian, pemahaman dan kewaspadaan masyarakat terhadap risiko yang ditimbulkan Sesar Sausu pun masih rendah. Peneliti BRIN, Mudrik Rahmawan Daryono, menekankan pentingnya penelitian lebih lanjut untuk memetakan hubungan antar-patahan dan memahami potensi aktivitasnya. Ia juga mendorong pembentukan pusat penelitian khusus seperti Nalodo Research Center untuk mengkaji aspek geologi, teknik, hingga sejarah kebencanaan secara menyeluruh.
Literasi Rendah dan Misinformasi
Masalah lain yang muncul adalah lemahnya pemahaman masyarakat. Sebagian besar warga bahkan terjadi gempa dengan tradisi ritual permohonan hujan Morra Keke yang diadakan sehari sebelumnya — anggapan yang tidak memiliki dasar ilmiah dan justru menyebar menjadi informasi keliru melalui media sosial.
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa meskipun Sesar Palu-Koro sudah lebih dikenal, pengetahuan masyarakat mengenai langkah-langkah membantu, ketersediaan tempat aman, serta pemahaman para mengambil kebijakan terkait rencana kesiapsiagaan bencana masih belum merata dan perlu ditingkatkan lagi.
Related Articles
GEMPA 4,7 GUNCANG SULBAR
WASPADA POTENSI CUACA EXTRIM
Banjir Jakarta Rendam Ribuan Rumah